Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Thursday, April 30, 2026

Membuat Bingkai Foto

 


“Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya.

“Ada apa sih, Nis. Kok marah-marah sendiri gitu,” tegur Kak Ima sambil melongokkan kepalanya, melihat kamar Anis. “Astaga, apa salah kertas-kertas ini, kauremas-remas sampai tak berbentuk.”

Mendengar candaan Kak Ima, Anis meringis. “Ini, Kak. Aku mau bikin bingkai foto, tapi nggak bisa pas kanan, kiri, atas, dan bawahnya. Kata Bu Guru harus sebangun dengan fotonya.”

Ima mendekati adiknya. Dia bisa mengerti, karena adiknya yang super perfeksionis ini memang tidak bisa melihat barang yang dibuat dengan ukuran yang tidak presisi. Selalu ada yang mengganjal meski hanya ada beda sedikit.

“Coba mana fotomu?” tanya Kak Ima mencoba membantu.

Anis menunjukkan foto berukuran alas 16 cm dan tinggi 24 cm, lalu sebuah karton berbentuk persegi panjang. “Foto dan karton harus dibuat sebangun. Lebar karton di sebelah kiri, kanan, dan atas foto adalah 2 cm. Aku harus mencari lebar bagian bawahnya, supaya bisa sebangun.”

“Kamu tahu cara mengukur dua bangun yang sebangun, kan?” tanya Kak Ima.

“Iya, Kak. Ada dua bangun persegi panjang. Foto dan bingkai. Foto mempunyai alas 16 cm dan tinggi 24 cm. Sedangkan bingkai, setelah ditambah 2 cm di kiri dan kanannya, maka mempunyai alas (16 + 2 + 2) cm = 20 cm. Tinggal tingginya yang harus dicari. Untuk mendapatkan tinggi bingkai, supaya sebangun, maka: 

 

Selanjutnya dikali silang, menjadi:

Tinggi bingkai x 16 = 24 x 20

Tinggi bingkai = 480 / 16 = 30 cm.”

“Nah, kan. Itu sudah betul. Sekarang buat bingkai sesuai ukuran, lalu pelan-pelan saja waktu menempelnya. Ukur lagi, kiri, kanan, dan atas harus 2 cm.” Kak Ima membantu membuat ukuran yang tepat. “Nanti sisa lebar bagian bawah seharusnya jadi (30 – 24 – 2) = 4 cm. Ini lebih lebar, ya. Tapi bisa ditambahkan tulisan supaya cantik bingkainya. Iya, kan?”

“Iya, Kak. Wah, kenapa kalau ditemani Kak Ima pasti kerjaanku beres. Lain kali bantuin lagi, ya Kak.” Anis tersenyum nakal sebelum cubitan sayang mendarat di pipinya.

 

*Selesai*

Mengukur Lebar Sungai

Rumah Malik letaknya agak jauh dari desa terdekat. Untuk pergi ke sekolah, Malik harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup lebar. Sebelum ada pembangunan masuk desa, Malik dan beberapa anak yang berdekatan rumahnya, harus berangkat pagi-pagi sekali kalau mau ke sekolah. Satu per satu mereka akan menyeberang dengan menggunakan dua utas tali yang dibentangkan kuat-kuat dari ujung tepi sungai yang satu ke ujung tepi sungai seberangnya.

“Hati-hati, pegang kuat-kuat talinya. Jangan lihat ke bawah,” kata Pak Muin yang sering membantu menyeberangkan anak-anak.

Menyeberang menggunakan dua tali, satu untuk pegangan dan satu di bawahnya untuk pijakan, benar-benar harus konsentrasi. Awalnya menakutkan, tapi selanjutnya jadi menantang.

“Memang berbahaya, tapi kalau tidak begitu, tidak bisa sekolah,” jawab Malik ketika ada salah satu orang tua murid yang bertanya.

Sampai akhirnya ada program pembangunan desa, yang menargetkan pembangunan jembatan di sungai yang sering dilewati Malik.

Suatu hari Pak Guru bertanya, “Adakah yang tahu berapa lebar sungai yang diseberangi Malik?”

Malik mengangkat tangannya. “Saya belum menghitung, Pak. Tapi saya pernah lihat Pak Muin dan teman-temannya mengukur lebar sungai ketika akan membangun jembatan.”

“Bagaimana caranya, Lik?” Ucup penasaran.

“Waktu itu Pak Muin menancapkan tongkat di empat titik, yang nantinya akan membentuk dua segitiga sebangun jika dihubungkan dengan sebuah pohon di seberang sungai.” Malik berdiri lalu bertanya pada Pak Guru, “Saya izin maju untuk menggambar di papan tulis boleh, Pak?”

“Tentu saja, Lik!” Pak Guru tersenyum senang karena muridnya berani dan bisa menjelaskan apa yang tadi ditanyakannya.

Di papan tulis Malik menggambar sebuah pohon sebagai ujung segitiga, lalu dua sisi sejajar di bawahnya. Di antara pohon dan sisi terdekatnya ada sebuah sungai yang akan diukur lebarnya. Malik memberi nama keempat titik tersebut, A, B, C, dan D.

“Kalau tidak salah dengar, jarak AB, AD, DC, berturut-turut adalah 8 m, 4 m, dan 6 m.”

Malik menuliskan semuanya di papan tulis. “Dengan dua segitiga yang sebangun ini, kita bisa menghitung lebar sungai, yaitu dengan membuat perbandingan :

Dari perbandingan tersebut, selanjutnya dikali silang:

8 x PD = 6 x (PD + 4)

8 PD = 6 PD + 24

8 PD – 6 PD = 24

2 PD = 24

PD = 24/2 = 12 m.

Jadi jarak antara pohon dengan titik D = lebar sungai = 12 meter.”

Malik meletakkan kapur tulisnya lalu melihat ke arah Pak Guru, meminta untuk dikoreksi jika ada yang salah.

Pak Guru tersenyum sambil mengangkat kedua ibu jarinya, lalu menyilakan Malik duduk kembali.

“Betul sekali pendekatan matematika seperti yang dijelaskan Malik. Dengan memanfaatkan teori kesebangunan, kita bisa mengukur lebar sungai terlebih dulu untuk memperkirakan panjang jembatan yang akan dibuat.” Pak Guru mengangkat jempolnya sekali lagi ke arah Malik. “Nanti pulang sekolah bawa pulang empat buah durian di samping sekolah itu, ya. Makan ramai-ramai dengan teman-temanmu!”

Hore… semua anak berteriak senang.

 

*Selesai*

Tuesday, March 31, 2026

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

 


Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik, tumpukan pakaian sudah segunung. Karena butuh seragam yang rapi, mau tidak mau, Ibu harus menyetrika.

Dengan cekatan Ibu menyetrika satu per satu seragam sekolah Mia. Lalu baju kerja Ayah, lalu seragam Adik. Seragam Mia lagi, baju Ayah, daster Ibu, lalu celana Adik. Diulang-ulang, agak membosankan. Mia menguap. Setelah membetulkan posisi duduknya, Mia sekarang mengamati gerakan tangan Ibu.

“Mulai dari kerahnya, kemudian sisi yang ada sakunya, kemudian sisi lainnya. Dibalik, dikancingkan, lalu setrika bagian belakangnya. Kalau sudah licin, dilipat dengan rapi.” Sambil memperhatikan Ibu, Mia bergumam mengulangi langkah menyetrika yang dilakukan Ibu.

Ibu tersenyum melihat Mia. Sesekali Mia diajari menyetrika, tapi tetap sambil diawasi, karena terkadang Mia masih meletakkan sisi panas setrika terlalu lama. Setelah bosan belajar menyetrika, Mia kembali duduk manis di sebelah Ibu.

Mia mengamati sambil sesekali mengernyitkan dahinya. “Untuk menyetrika satu baju, kira-kira Ibu membutuhkan waktu 1 menit 30 detik.”

”Oya, sempat juga Mia menghitung,” sahut Ibu.

Mia menjawab sahutan Ibu dengan tersenyum. Dia masih mengagumi tangan Ibu yang terus bergerak cekatan meski sambil berbicara dan memandang ke arahnya.

“Oiya, karena nanti jam 4.10 Ibu ada arisan, Ibu harus selesai menyetrika jam 4.00. Kira-kira Ibu bisa menyelesaikan berapa potong baju?” tanya Ibu tiba-tiba.

Mia melirik tumpukan pakaian yang menuggu untuk disetrika, lalu melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua.

“Sekarang jam 2.00. Kalau Ibu hanya bisa menyetrika sampai jam 4.00, maka Ibu punya waktu 2 jam saja. Karena untuk menyetrika satu baju kira-kira butuh 1 menit 30 detik, maka…

Waktu menyetrika = 2 jam = 2 x 60 x 60 = 7200 detik.

Satu baju = 1 menit 30 detik = 90 detik.

Maka baju yang mungkin disetrika Ibu = 7200 : 90 = 80 potong baju.” Mia menjelaskan sambil memainkan jari-jari untuk membantunya berhitung.

“Wah lumayan banyak. Bisa selesai menyetrika hari ini, nih,” kata Ibu.

“Dengan tangan Ibu yang cekatan pasti bisa, Bu. Mia bantu sambil nonton Doraemon, ya.” Sambil tersenyum menggoda Mia beranjak menyalakan televisi.

 

*Selesai*


Monday, March 30, 2026

Ember Kuning Yangti

 



Lebaran kemarin Sunu menginap di rumah Yangti, di Payaman, Magelang. Hampir semua paman, bibi dan keluarganya datang menginap. Tradisi keluarga setiap hari raya. Tak ada kamar tak apa, yang penting semua ramai berkumpul. Anak-anak kecil akan menggelar kasur berjejer-jejer di depan televisi dan tidur seperti pindang. Orang-orang dewasa akan mengobrol sampai malam. Hangat sekali.

Sunu, Nurul, Remi, dan Dani adalah sepupu seumuran. Sama-sama kelas lima SD, hanya selisih dua sampai lima bulan saja umurnya. Karena itulah setiap kali berkumpul selalu sangat ramai mereka berempat.

“Dani aja yang manjat, jangan kamu. Mosok cewek polah-nya kayak cowok,” tegur Remi ketika Nurul mau memanjat pohon jambu di halaman rumah Yangti.

“Ah, aku bisa, kok. Zaman sekarang nggak boleh ngeremehin cewek, ya!” balas Nurul sambil cemberut. Sebelah kakinya sudah siap di batang pohon.

“Sudah! Kalau Nurul bisa, ya nggak apa,” sahut Dani. “Aku mau diambilkan yang sudah kekuningan itu, ya!” Dani menunjuk sebuah jambu yang kelihatan sudah matang.

Langsung dengan sigap Nurul memanjat dan mengambilkan jambu yang diminta Dani. “Tuh, kan. Gampang!” seru Nurul sambil melemparkan jambu ke arah Dani.

“Oh, maaf sudah meremehkan. Ternyata kamu jago banget,” kata Remi. “Kalau gitu ambilkan aku juga, ya!” Dari bawah Remi berteriak yang disambut acungan jempol Nurul.

Tak lama kemudian, datang Sunu membawa sebuah keranjang kosong. “Ini untuk tempat jambunya. Kata Yangti, selesai panen jambu, kita disuruh bantuin menimba air untuk mandi bocil-bocil.”

Keranjang sudah penuh dengan jambu yang sudah matang. Sunu dan Dani sudah ada di depan sumur, sedangkan Nurul dan Remi mengambil sebuah ember kuning besar dari kamar mandi.

Semua sudah terbiasa, di rumah Yangti kalau mau mandi harus mengisi ember kuning besar. Air diambil dari sumur di belakang rumah. Yang menimba dari sumur harus orang dewasa, sedang anak-anak yang sudah bisa berhati-hati akan ikut membantu sambil bermain air. Seru sekali.

Sore itu Sunu sengaja membawa sebuah meteran dari kotak perkakas Bapak. Dia penasaran ingin mengukur ember kuning besar milik Yangti.

Ketika Nurul dan Remi datang, Sunu mulai mengukur. “Ember kuning Yangti berbentuk tabung dengan diameter 70 cm dan tinggi 80 cm. Sedangkan air dari sumur diambil menggunakan ember kecil yang berdiameter 35 cm dan tinggi 40 cm. Butuh berapa kali menimba air dari sumur untuk memenuhi ember kuning Yangti?” tanya Sunu.

“Kita harus penuhin dululah, baru bisa kita jawab,” sahut Dani.

“Jangan diisi dulu! Coba tebak saja butuh berapa ember kecil! Atau ada yang bisa menghitung dengan tepat? Nanti Paman kasih coklat.” Tiba-tiba Paman Doli sudah ada di belakang mereka.

“Enam kali,” teriak Remi.

“Lima kali kayaknya cukup,” jawab Nurul.

“Enam setengah,” kata Dani.

“Oke. Dikunci jawabannya. Sunu?” tanya Paman Doli ketika melihat Sunu komat-kamit sendiri di pinggir sumur.

“Ehm, delapan,” sahut Sunu.

“Oke. Ada yang punya alasan buat jawabannya?” Paman Doli bertanya lagi.

Nurul, Remi, dan Dani saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala bersamaan.

“Aku pake hitungan matematika, Paman,” sahut Sunu bersiap menjelaskan.

“Oke, baik. Mari kita dengarkan apa kata Sunu,” kata Paman Doli dengan nada seperti reporter televisi.

“Ember kuning diameternya 70 cm, maka jari-jari r = 35 cm; tinggi t = 80 cm; p = 22/7.

Volume ember kuning = p x r2 x t = 22/7 x 35 x 35 x 80 = 308.000 cm3.

Ember sumur diameternya 35 cm; t = 40 cm.

Volume ember sumur = ¼ x p x d2 x t = ¼ x 22/7 x 35 x 35 x 40 = 38.500 cm3.

Untuk memenuhi ember kuning Yangti, maka harus mengambil air dari sumur sebanyak = 308.000 : 38.500 = 8 kali,” jelas Sunu.

“Wah, keren banget liburan tapi masih belajar matematika,” celetuk Dani sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Emang kamu, libur ato enggak, nggak pernah kepikiran matematika,” tukas Nurul yang disambut gelak tawa yang lainnya.

“Baiklah, memang benar jawabnya delapan kali. Dan seperti yang dijelaskan Sunu, bisa pakai rumus volume tabung untuk menghitungnya. Nah, karena tepat menjawab, Sunu dapat tiga coklat, sementara yang lain tetap dapat dua coklat.” Paman Doli mulai membagikan coklat dari kantongnya.

“Ember kuning Yangti sudah penuh, belum? Bocil-bocil sudah nungguin, nih!” teriak Bibi Titi dari dalam kamar mandi.

“Ah, iyaaaaa…” Bersamaan Paman Doli dan keempat keponakannya berteriak panik. Sambil cekikikan mereka segera menimba dan mengisi ember kuning Yangti.

 

*Selesai*


Saturday, February 28, 2026

Aduh, Itu Saya!

 


Siang itu, kabut tipis terbang rendah. Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo, hampir setiap waktu panasnya siang bercampur dengan udara sejuk.

Ujo dan Ali sedang bermain kelereng di halaman rumah mereka. “Giliranku ya, Jo!” Ali mulai membidik kelereng Ujo. “Wah pasti kena, nih!”

Ali memicingkan sebelah matanya, dengan penuh konsentrasi membidik kelereng Ujo. Thak! Bunyi kelereng yang dilepaskan Ali tepat mengenai kelereng Ujo dengan keras.

“Hore, berhasil! Kelereng itu jadi milikku!” teriak Ali.

“Yah, habis sudah kelerengku,” keluh Ujo. “Lho, mana kelerengnya, Li?

Mereka berdua lalu mencari-cari. Ternyata menggelinding masuk sampai ke kandang ayam Pak Din.

“Ada di dalam, Li!” kata Ujo.

“Biar aku ambil, sepertinya pintu kandang tidak dikunci,” kata Ali.

Ali segera masuk ke kandang, mengambil kelereng, kemudian bergegas keluar.

“Wah, sudah siang! Kita pulang dulu, yuk! Lagipula kelerengku sudah habis,” ajak Ujo.

Ali mengangguk, lalu bergegas memasukkan kelereng-kelerengnya ke dalam kaleng. Berdua mereka meninggalkan tempat itu.

Belum sampai masuk rumah, Ali mendengar Pak Din berteriak-teriak, “Ayam-ayamku lepas! Tolong bantu siapa saja yang bisa menangkapnya! Aduh, siapa tadi yang lupa menutup pintu kandang?”

Ali yang mendengar teriakan Pak Din langsung merasa bersalah. Dia yang terakhir masuk ke kandang ayam Pak Din untuk mengambil kelereng. “Duh, aku harus bagaimana ini? Aku takut dimarahi!” batin Ali.

Sambil memikirkan itu, Ali bergegas menghampiri Pak Din dan membantunya menangkap ayam-ayam yang lepas.

“Itu, ada dua yang lari ke sana, Li!” Pak Din menunjuk ke bawah pohon jambu. “Lalu di sana juga ada tiga,” tunjuk Pak Din ketika melihat kelebatan ekor ayam di dekat tanaman serai.

Ali berlari ke sana-sini mengikuti arahan Pak Din.

“Masih kurang berapa, Pak?” tanya Ali sambil mengatur napas.

Pak Din mulai menghitung. Yang di dalam kandang tadi ada 11, ditambah 2 di pohon jambu, ditambah 3 di pohon serai, ditambah 2 di dekat pagar, ditambah 1 di samping gudang, jadi totalnya = 11 + 2 + 3 + 2 + 1 =  19 ekor. Padahal seharusnya 20 ekor. Jadi masih kurang seekor, Li,” sahut Pak Din sambil celingukan mencari satu ayamnya yang belum ketemu.

Tiba-tiba ada sekelebat makhluk yang terbang rendah melintas di depan Ali dan Pak Din. Dengan sigap Pak Din menangkapnya.

“Nah, ini ayam terakhir!” kata Pak Din sambil memasukkannya ke dalam kandang. “Terima kasih sudah membantu menangkap ayam-ayam ini, Li.”

Ali tidak berani memandang mata Pak Din. Tapi tak berapa lama kemudian, dia membuka mulut dengan agak tergagap. “Sebenarnya, Pak! Tadi saya yang lupa menutup pintu kandang.” Lalu Ali menjelaskan bagaimana dia masuk, lalu keluar tanpa menutup pintu kandang ayam Pak Din.

Sambil memandangi Ali, Pak Din menghela napas. “Bapak hargai kejujuran dan bantuan kamu. Tapi lain kali jangan diulangi, ya! Masuk ke tempat milik orang lain tanpa izin saja sudah salah, apalagi lalai dan hampir merugikan orang lain.”

“Maaf, Pak!” kata Ali lirih.

“Sudah tidak apa-apa,” kata Pak Din sambil merangkul Ali. “Nah sekarang, kita masuk dulu. Bu Din sudah membuatkan es jeruk dan tempe kemul.”

Ali senang karena memutuskan untuk bersikap jujur. Meskipun awalnya takut, tapi dia lega sudah berani jujur dan bertanggung jawab.

 

**Selesai**

Friday, February 27, 2026

Membangun Rumah Lebah

 


Pak Bee, seekor lebah pekerja, sedang membangun rumah lebah untuk sang ratu yang akan bertelur. Bersama dengan 19 lebah pekerja lainnya, Pak Bee harus menyelesaikan rumah lebah dalam waktu 30 hari.

Semua lebah pekerja bekerja dengan penuh semangat, mengumpulkan madu dan serbuk sari dari bunga-bunga di sekitar mereka. Mengunyahnya dengan lilin lebah yang dihasilkan kelenjar perutnya. Kemudian membentuknya jadi ruang-ruang heksagonal yang cantik dan nyaman untuk meletakkan telur-telur lebah yang siap menetas.

Semua berjalan sesuai rencana, sampai pada hari ke-12, ketika Pak Bee sedang beristirahat siang, tiba-tiba, kring kring… telepon di kantor Pak Bee berbunyi.

“Halo, Selamat Siang. Ada yang bisa dibantu?” sapa Pak Bee ramah.

“Halo, Pak Bee. Saya Udin, lebah pekerja yang memantau cuaca,” sahut suara di seberang telepon. “Menurut laporan cuaca, hari ini dan 5 hari ke depan akan ada hujan badai dan angin kencang. Para lebah pekerja yang bertugas mengambil serbuk sari kesulitan untuk memanen.”

Memang cuaca sedang tidak menentu, hari ini panas terik, besok hujan deras, kadang ada angin puting beliung. Pak Bee berpikir keras. “Para lebah yang berangkat tadi pagi bagaimana?” tanya Pak Bee.

“Beberapa yang sudah berhasil memanen, ketika pulang kembali kesulitan membawa madu dan serbuk sari. Mereka juga bilang kalau banyak bunga sudah kehilangan serbuk sarinya karena tertiup angin yang mulai kencang,” lapor Udin.

“Baiklah, kita istirahat dulu saja 5 hari ke depan. Setelah itu kita mulai bekerja lagi. Semoga cuaca sudah kembali cerah,” kata Pak Bee sebelum menutup teleponnya.

Keesokan harinya, hujan badai melanda. Angin kencang bertiup menggetarkan rumah-rumah lebah yang baru jadi sepertiganya. Untung saja rumah lebah dibuat dari lilin lebah yang berfungsi memperkuat bangunan lebah yang berbentuk heksagonal. Karena bentuknya juga, rumah lebah bisa menempel dengan pas satu ruang dengan ruang lainnya, sehingga semakin kokoh. Tak goyah meski terkena angin.

Di kantornya, Pak Bee sedang menikmati kopi dan kudapan hangat, ketika Udin bertanya, “Pak, kalau kita istirahat 5 hari, apakah tetap bisa menyelesaikan rumah lebah tepat waktu?”

Pak Bee berpikir sejenak, “Kalau ingin tetap selesai dalam waktu 30 hari, maka kita harus menambah pekerja. Ini adalah sebuah perbandingan terbalik.”

Udin memandang Pak Bee sambil mengerutkan keningnya.

Melihat wajah bingung Udin, Pak Bee mulai menjelaskan, “Rencana awal dengan 20 pekerja bisa selesai dalam 30 hari. Setelah 12 hari bekerja, ternyata pekerjaan harus berhenti selama 5 hari. Berarti nantinya tinggal tersisa 13 hari. Supaya bisa selesai tepat waktu, kita buat perbandingannya:

Setelah 12 hari:

Ø Seharusnya sisa 18 hari dengan 20 pekerja

Ø Tapi karena berhenti 5 hari, tinggal tersisa 13 hari dengan n pekerja.

Maka perhitungan perbandingan terbalik menjadi :

18 x 20 = 13 x n

          n = (18 x 20) : 13

          n = 27, 69 atau mendekati 28 pekerja.

Nah, kalau ditotal dengan saya, jumlah kita sudah 20 pekerja. Jadi, kita hanya perlu menambah 8 pekerja lagi.”

Udin masih mengerutkan keningnya, tapi sekarang sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Pak Bee menyeruput sisa kopinya, lalu beranjak mencari jas hujan. “Kalau begitu, sekarang saya akan mulai mencari pekerja tambahan yang bisa mulai bekerja pada hari ke-18,” katanya sambil memakai jas hujannya.

“Hati-hati, Pak. Kalau hujan terlalu deras, berteduh. Kalau angin terlalu kencang, berlindung,” kata Udin sambil melambaikan tangannya.

 

**Selesai**


Saturday, January 31, 2026

Kue Putu Ayu Buatan Gendhis

 


“Uh, aku capek!” Gendhis meletakkan cetakan kue putu ayu dengan kasar.

“Kenapa, Ndhis? Biasanya kamu membuat kue dengan gembira,” tanya Mbak Nawang sambil mendekati Gendhis.

“Ini, Mbak. Pesanan kue Gendhis banyak sekali,” sahut Gendhis sambil memonyongkan bibirnya. “Padahal Gendhis masih ada PR Matematika. Duh, pusing!”

Kesibukan Gendhis ini berawal sejak bulan lalu. Ketika ada acara Saparan di desanya, Gendhis mencoba membuat kue putu ayu, kue tradisional Jawa Tengah yang sering disajikan ketika ada kegiatan kearifan lokal atau tradisi budaya Jawa.

Sebetulnya membuat kue putu ayu sangat mudah, tapi kata Ibu-Ibu yang mencicipi, kue putu ayu buatan Gendhis istimewa. Sejak saat itu, Gendhis sering menerima pesanan kue dari tetangga sekitar rumahnya.

“Mau Mbak bantu?” tanya Mbak Nawang.

Gendhis memikirkan tawaran Mbak Nawang.

“Ehm, sepertinya tidak usah, Mbak,” sahut Gendhis menolak dengan halus. “Minggu lalu, ketika adonan kue dibuatkan Ibu, kata Bu Puji rasanya kok agak beda, lain dari biasanya.”

“Oya? Bedanya apa?” tanya Mbak Nawang.

“Entahlah, padahal resepnya sama persis. Dan Ibu lebih jago membuat kue. Karena itu, Gendhis berusaha sebisa mungkin membuat sendiri kue-kue ini. Terima kasih sudah menawarkan bantuan, Mbak.”

Mbak Nawang mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Mbak bisa mengerti, kok. Mungkin karena Gendhis selalu mengadon kue sambil bersenandung dengan hati gembira, kuenya jadi istimewa,” ucap Mbak Nawang.

Gendhis merasa lega, karena Mbak Nawang bisa mengerti.

Mbak Nawang memperhatikan ketika Gendhis mulai menimbang tepung terigu untuk satu resep adonan. “Sebetulnya pesananmu berapa, Ndhis?” tanya Mbak Nawang.

“Seratus dua puluh lima, Mbak!” sahut Gendhis sambil menakar dengan teliti.

“Satu resep bisa jadi berapa buah?”

“Tiga puluh.”

“Kenapa kamu tidak menakar untuk dua atau tiga resep sekaligus. Kan bisa menghemat waktu untuk mengadon. Nanti tinggal mengukusnya saja,” usul Mbak Nawang.

“Wah, kenapa tidak terpikirkan seperti itu, ya! Mbak jenius!” katanya sambil memeluk kakak kesayangannya. “Baiklah kalau begitu! Mari berhitung!”

Mbak Nawang tertawa geli melihat tingkah Gendhis.

“Kue yang sudah jadi tiga puluh, yang sedang dikukus tiga puluh juga. Jadi aku harus membuat tiga resep lagi. Nanti jadi seratus lima puluh. Sisanya bisa dimakan ramai-ramai.”

“Wah, asyik!” seru Mbak Nawang menyambut ucapan Gendhis.

“Kita bisa pakai perkalian atau kelipatan seperti yang sudah Gendhis pelajari di sekolah kan, Mbak!” kata Gendhis bersemangat.

Mbak Nawang menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar, karena jawaban Gendhis tepat sekali.

“Karena akan langsung membuat tiga resep, berarti semua bahan dikalikan tiga,” gumam Gendhis sambil mulai berhitung.

“Dua butir telur x 3 = 6 butir,

75 gram gula pasir x 3 = 225 gram,

125 gram tepung terigu x 3 = 375 gram,

1 sendok teh SP x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh garam x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh vanili bubuk x 3 = 3 sendok teh,

100 ml santan cair yang sudah direbus x 3 = 300 ml,

1 sendok makan pasta pandan x 3 = 3 sendok makan.

Kelapa muda parut untuk topping, beri garam sedikit, lalu dikukus.

Pewarna hijau secukupnya.”

“Yes, betul banget, Ndhis!” puji Mbak Nawang.

Gendhis langsung bergerak cepat. Mengambil wadah yang berukuran lebih besar, lalu mulai menimbang satu per satu bahan yang sudah disiapkan. Semuanya dikalikan tiga.

Setelah semua bahan selesai ditakar, Gendhis mengambil mixer. Pertama-tama dia mengocok telur, gula, garam, SP dan vanili sampai mengembang. Lalu, satu per satu bahan yang tersisa dimasukkan ke dalam adonan. Semangat Gendhis kembali seketika. Dia membuat adonan kue putu ayu sambil bersenandung gembira.

“Wah, adonan kali ini pasti hasilnya sangat luar biasa!” puji Mbak Nawang merasakan keceriaan adiknya.

Gendhis tersenyum senang. Setelah adonan jadi, dia memasukkan pewarna makanan dengan hati-hati. “Satu tetes saja, supaya warnanya lembut dan cantik.”

Adonan berwarna hijau muda sudah tercampur sempurna, Gendhis lalu memasukkannya ke masing-masing cetakan putu ayu, yang di dalamnya sudah diberi sejumput parutan kelapa muda. Tidak lupa sebelumnya cetakan harus dioles sedikit minyak, supaya tidak lengket.

“Nah, sekarang sudah siap dikukus,” gumam Gendhis sambil memandangi adonan dalam cetakan yang sudah berjajar rapi. “Benar, Mbak Nawang. Aku jadi menghemat waktu banyak sekali. Sekarang sambil menunggu kue dikukus, aku bisa mengerjakan PR Matematikaku.”

Mbak Nawang tersenyum senang karena bisa membantu adik kesayangannya.

Gendhis memasukkan tiga puluh kue ke dalam kukusan, lalu memasang alarm. “Sekarang tinggal menunggu dua puluh lima menit ke depan.” Gendhis memeriksa besar nyala api, lalu dia meninggalkan dapur. Tak lama kemudian kembali dengan beberapa buku di tangannya.

“Yakin tidak perlu bantuan Mbak?” tanya Mbak Nawang ketika lewat dapur lagi.

“Iya, Mbak. Kalau tinggal menunggu matang, bisa dilakukan sambil mengerjakan PR,” jawab Gendhis sambil tersenyum.

“Baiklah. Kalau begitu Mbak mau ke rumah Mbak Ira dulu, ya!” kata Mbak Nawang sambil berlalu. “Jangan lupa, nanti Mbak harus mencicip kue putu ayunya lho!” gurau Mbak Nawang dari balik pintu.

“Siap, Mbak! Terima kasih. Mbak Nawang memang kakak terbaik,” balas Gendhis sambil membentuk hati dengan jarinya.

 

***SELESAI***


Membuat Bingkai Foto

  “Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya. “Ada apa sih, Nis. Kok marah-marah send...